Saya terharu……
Subhanallah….tiada kata selain sgala puji baginya. Beberapa hari yang lalu, saat berlangsung acara halal bihalal plus syuro’ , saya menitikkan air mata, terharu. Entah dari mana datangnya rasa itu, tiba-tiba ada rasa haru menyeruak. Mungkin sama yang dibilang oleh ukhti Asih, saya merasa bahagia merasakan dien Islam, bahagia dengan keislaman ini, dengan hidayah ini. Saya merenung, entah apa jadinya saya sekarang, jika kali itu Allah tidak mempertemukan saya dengan saudara-saudara kita yang gigih mengajak pada kebaikan. Mereka seakan tak rela surga hanya jadi miliknya. Saya yang tidak punya pertalian darah apaun dengan mereka, bisa merasakan kasih sayng yang begitu indah, begitu sejuk,ya..inilah persaudaran karena Allah.
Kemudian, kibaran jilbab itu, tiba-tiba menjadi begitu mempesona buatku. ketundukan mereka, sikap yangbegitu hati-hati menjaga kehormatan masing-masing, kecintaan mereka pada masjid dan juga Al qur’an yang hamper tak pernah lepas dari tangan, serta bibir yang tak henti-hentinya mengucapkan kalimatullah.
Hamdallah yang biasanya saya ucapkan ketika keknyangan, istighfar & tasbih yang terucap ketika duduk berzikir seusai solat, begitu seringnya terucap menghiasi bibir mereka. Ketika mendapat kenikmatan sekecil apapun, hamdalah meluncur begitu ringannya, istighfar selalu sesegera mungkin mengiri tiap kekhilafan yang terlanjur terjadi, dan kalimat tasbih terus bertebaran tiap keindahan memunculakn diri dalam bentuk fisik hingga keindahan akhlak.
Saya benar-benar terpesona, Allah sedang menunjukkan kemuliaanNya. Dan sungguh rahmatNya yang tak terkira, ditiupkannya hidayah pada diri ini. Inilah fitrah, manusia siapapun dan bagaimanapun ia, kesemuanya adalah ciptaan Allah, karenanya dalam diri manusia sbenarnya sudah ada kecendurangan pada nilai-nilai Islam yang hakiki. Hanya saja, segala macam prasangka, kebodohan, dan kesombongan membuat fitrah itu tertutupi. Bersyukur, Allah telah menyikap hijab itu.sehingga say tak terus berkubang pada kejahiliyahan.
Jikalaulah kala itu, tidak kuputuskan untuk berhijrah, mungkin saya masih tetap jadi anak mama, yang guliran hidupnya hanya antara kampus, kantin, ruang mkan,TV hingga tempat tidur. Tanpa hidayah itu, sungguh saya bukanlah apa-apa. Dengan Islam, kini saya mencoba untuk menjadi berarti, meski tertatih smoga saya bisa istiqomah menapaki jalan ini.
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakan. Dan Tuhanmu tidak lenganh dari apa yang mereka kerjakan” (Al-An’am : 132)
Mengarungi samudra kehidupan, kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan, tiada masa tuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah tak akan sirna ditelan masa
segores luka di jalan Allah kan
(Nasyid Bijak; Bingkai Kehidupan)
“Ukhti, ana mau bicara sbentar”, saya tersentak oleh tepukan seorang akhwat.
“Ya ukhti, ada apa?”
“Hmmm…afwan, sbenernya ada sesuatu yang terjadi….,”akhwat iniseolah-olah enggan untuk bicara.
“afwan sbelumnya, barang yang antum pinjamkan ke ukhti B kemarin hilang. Waktu itu yang menghilangkan kakaknya. Anti tahu sendiri, kalau ukhti B pinjam karena memang keadaan ekonomi keluarganya minus, sepertinya nggak mungkin kalau dia bisa menggantinya”
Ada

Subhanallah Maha Suci Allah yang menggenggam segala jiwa.
Posted by: Maston | May 1, 2007 09:52 AM